Ruwah Dusun: Wujud Syukur dan Doa untuk Para Pendahulu
Ruwah Dusun (sering juga disebut Bersih Desa atau Sedekah Bumi di beberapa daerah) adalah ritual tradisi tahunan masyarakat Jawa yang dilakukan pada bulan Ruwah (dalam kalender Jawa) atau bulan Sya'ban (dalam kalender Hijriah).
Sederhananya, ini adalah momen “bersih-bersih” desa, baik secara fisik maupun spiritual, sekaligus menjadi ajang penghormatan kepada leluhur sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
A. Makna dan Tujuan Ruwah Dusun
Tradisi ini memiliki kedalaman makna yang sangat kuat bagi masyarakat agraris:
1. Penghormatan Leluhur: Kata “Ruwah” berasal dari kata Arwah . Ritual ini bertujuan untuk mendoakan para leluhur dan Pepunden (tokoh pendahulu/pembuka wilayah) yang dianggap telah berjasa bagi desa tersebut.
2. Pembersihan Spiritual (Bersih Desa): penginapan sebagai cara untuk membuang energi negatif atau "sengkolo" (bala/kesialan) agar warga desa selalu diberi keselamatan dan ketenteraman.
3. Ungkapan Syukur: Berterima kasih atas hasil panen dan rezeki yang melimpah selama satu tahun terakhir.
4. Persiapan Puasa: Menjadi sarana penyucian diri secara kolektif agar warga siap menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih.
B. Kegiatan Utama di Ruwah Dusun
Biasanya, rangkaian acaranya cukup panjang dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat:
1. Kerja Bakti (Resik-Resik): Warga bergotong-royong membersihkan lingkungan desa, selokan, hingga makam umum.
2. Nyekar (Ziarah): Mengunjungi makam keluarga dan makam tokoh pendiri desa (Punden) untuk berdoa bersama.
3. Kenduri/Slametan: Puncak acara di mana warga berkumpul membawa berkat atau tumpeng ke tempat keramat (Punden) atau balai desa untuk didoakan oleh sesepuh.
4. Pagelaran Budaya: Seringkali dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional seperti Wayang Kulit , Tayub , atau Jaranan . Dalam kepercayaan Jawa, pertunjukan wayang (terutama lakon tertentu) berfungsi sebagai ritual ruwatan .

Komentar
Posting Komentar